Pada 10 Mei lalu, Pemprov DKI Jakarta meluncurkan gerakan “Jaga Jakarta Bersih, Pilah Sampah”, yang mengajak masyarakat untuk mulai memilah sampah langsung dari rumah sebagai bagian dari perayaan HUT Jakarta ke-499.
Urgensinya sudah sangat jelas. Setiap hari, sekitar 7.500 ton sampah dikirim ke Bantargebang, dan sekitar 53% di antaranya merupakan sampah organik yang menghasilkan gas metana saat tercampur dan terurai. Tumpukan sampah di Bantargebang kini mencapai sekitar 40 meter, dan riset dari UCLA & Carbon Mapper menyebut lokasi ini sebagai salah satu titik emisi metana terbesar di dunia, dengan estimasi produksi sekitar 6,3 ton metana per jam. Mulai 1 Agustus, sampah campuran tidak lagi akan langsung dikirim ke Bantargebang.
Ini bukan hanya masalah Jakarta. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, masih ada 343 TPA di Indonesia yang beroperasi dengan sistem open dumping, dan banyak di antaranya sudah mengalami kelebihan kapasitas. Pemilahan sampah bukan lagi sekadar pilihan, tetapi sudah menjadi kebutuhan untuk masa depan sistem pengelolaan sampah Indonesia.
Melalui Instruksi Gubernur No. 5 Tahun 2026, Jakarta kini mendorong rumah tangga, perkantoran, sekolah, apartemen, pusat perbelanjaan, hotel, hingga restoran untuk memilah sampah sejak dari sumbernya. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada TPA, meningkatkan daur ulang, dan mendukung pengembangan energi dari sampah.
Di VEL, kami siap mendukung transisi ini melalui kampanye edukasi, kanal digital, dan keterlibatan langsung dengan masyarakat. Karena perubahan nyata selalu dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari di rumah.
Renda Apristeffany
|
Edukasi
2 weeks ago